Postingan

Ngocehin Covid-19

Kali ini gue mau berbicara soal Covid-19 dan dampak yang ditimbulkan akibat pandemi ini. Setelah beberapa pekan belakangan ini gue mencoba untuk membaca beberapa portal berita mengenai Covid-19, menyaksikan kejadian yang ada di sekeliling gue, menonton beberapa tayangan di youtube soal  opini masyarakat, opini dan solusi pemerintah akan isu ini dan tanggapan serta himbauan dari para tenaga medis tentang Covid-19. Udah beberapa kali juga gue mendengar cerita langsung dari mamah. Iya, kebetulan mamah kerja di salah satu layanan medis, yang kadang dengan mendengar ceritanya aja udah membuat gue sakit kepala.  Tentunya gue gak akan bahas dari segi medis ataupun soal ekonomi, karena itu bukan ranah gue dan gue gak punya kapasitas tentang hal itu jadi gue gak mau asal ngoceh aja, salah salah yang ada gue malah membuat orang yang membaca ini malah tersesat. Ya kayak biasa aja gitu, gue mau ngomongin dari apa yang gue lihat dan apa yang gue dengar, dari apa yang pernah gue baca d...

Yaudah, gitu.

Gara-gara harus melakukan self distance untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, udah hampir tiga minggu gue cuma ngeliatin tembok lagi tembok lagi mana beberapa hari ini internet di hp gue rusak (idih ngadu), jadi setiap mau internetan harus nunggu mamah pulang kerja dulu huhu kebayang gak, tuh, gimana bosennya gue? hiburan satu-satunya ya cuma nontonin the biggest game show in the world, thank you , ya, RCTI. Meski ada rasa gatel banget pengen keluar, main sama temen-temen, gangguin anaknya tetangga, ngeliatin ayamnya si Haidar yang rasanya pengen gue cekek berisik banget abisnya, ke toko buku sambil jalan-jalan sendirian, termasuk ketemu anak-anak di sekolah, tapi tetep harus di tahan, nggak apa-apa di rumah dulu aja karena apa yang sedang kita lakukan ini juga merupakan salah satu bentuk kontribusi dari kita untuk kita, meski kita gak bisa melakukan kontribusi layaknya tenaga medis dalam melawan virus ini tapi jika dilakukan dengan disiplin, semoga ini cukup membantu kita se...

Hazel, aren't you? #2

Sejak hari di mana seseorang yang tidak ku kenal menyapaku lewat sebuah aplikasi chatting, aku tidak pernah mendapati hariku tenang tanpa rasa penasaran. Siapa sebenarnya dia? Mengapa pesan terakhirku tidak mendapat balasan darinya. Aku buka kembali kolom chat yang sudah tertimbun dengan puluhan chat lainnya, sejak sebulan lalu aku tidak pernah lagi mendapati balasan pesan darinya. "Ngapain aku simpan kontaknya, kalau dia hanya iseng lalu pergi!" ucapku dengan kesal. Aku merampas ransel yang berada di sampingku lalu berjalan menuju kedai kopi yang selalu ramai dikunjungi. Jangan bayangkan kedai ini seperti kedai kopi yang banyak dikenal oleh masyarakat metropolitan, kedai ini bisa dibilang kecil, tidak memiliki cabang lain selain tempat ini, tidak memiliki akses internet gratis dan juga jangan berharap jika kita bisa mengisi daya ponsel kita di kedai ini, karena kedai ini tidak memiliki colokan yang bisa digunakan untuk pelanggan. Membosankan, bukan? tetapi hal yang me...

Mengenyam jeda

Gambar
https://www.google.com/ ` 2020! This year hasn't been so good at all to me thus far. Ehmm bingung juga sih sebenernya, dunno exactly how I feel. Sometimes I'm grateful for what happened but feeling bad at the same time. Ya namanya juga manusia ya, Selama rehab dua bulan-nan lebih gak membuka blog ini, udah banyak banget yang terjadi. Jujur, beberapa hal sempat membuat mengeluh berkali-kali, karena dirasa belum sanggup menaklukkan perasaan kecewa. Kadang bingung sendiri sama maunya diri, kadang hati maunya begini tapi otak terus meneriakkan keinginan yang lain. Eh, bukan meneriakkan keinginan yang lain tetapi meneriakkan realita yang lain. ehehe  Saking kalutnya kadang-kadang bikin capek sendiri, apalagi kalo lagi ngerasa kok semua datang serasa bertubi-tubi dan gak dikasih jeda untuk istirahat, masalah seperti sedang tersenyum dan membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk secara bergantian, atau kadang secara bersamaan. Beberapa dari teman ...

Berkelana

Sudah kusisiri belahan kota ini, pergi mengelilingi tiap sudut tempat yang menjadi harapanku tiada kamu. Berharap segera bayangmu enyah. Aku ingat malam di mana kota ini terasa sangat begitu dingin. Menusuk rangka-ku, malam di mana kamu mengatakan bahwa kamu sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan bersamaku lagi. Cintamu telah usai, katamu. Malam itu, setelah apa yang kamu ucapkan padaku, kamu pamit dengan begitu tergesa-gesa, seolah-olah ada pintu lain yang akan kamu ketuk setelah ini. Kamu menghiraukan pintaku untuk menetap sebentar lagi.  Aku menerka apa yang sebenarnya terjadi. Tatanan rambutmu sama seperti saat kamu memintaku untuk menetap. Wangi tubuhmu seperti mengingatkan kembali saat-saat di mana kamu memintaku untuk menjadi wanitamu. Sekarang kamu mengulang lagi hal yang sama namun tidak dengan aku di dalamnya, kamu ingin menggantikan sosok wanita beberapa tahun yang lalu. Kamu memilih jalan yang tidak ada aku lagi di dalamnya. Siapa dia? tanyaku ganar. W...

Keliru

Tepat setelah aku mendeklarasikanmu sebagi satu dari prioritasku, di hari itu juga aku harus menelan cua. Begitu pahit, kenyataan bahwa kamu hanya menjadikanku sebuah kelakar, aku bagai arena rekreasi untukmu, tempatmu bermain-main. Aku keliru mengartikan perhatian-perhatian kecil yang kamu berikan, keliru mengartikan senyum-mu yang kupikir hanya untukku, aku keliru mengartikan genggaman-genggaman kecil saat kita bersama. Aku keliru saat kukira kita ada pada perasaan yang sama saat kamu selalu bersedia menghabiskan waktu untuk berbincang denganku, keliruku ketika aku mengira kamu membawa segenap hatimu saat sedang bersamaku. Kukira aku tidak jatuh cinta sendirian, kupikir ada kamu di dalamnya, bersamaku.  Seharusnya aku sadar sejak awal, bahwa ini bukan ketertarikanmu yang akan berujung pada sebuah afeksi padaku. Ini hanya rasa penasaranmu yang ingin kamu ketahui jawabannya. Ketika aku telah membuka ruang yang selama ini kututup rapat-rapat, dengan segala rasa yang mengge...

Kalau saja

Kadang gue suka mikir, kalau saja gue bukan gue yang sekarang apa segalanya bakalan sama seperti saat ini? Jadi, sepulang dari Pare gua dioleh-olehi pertanyaan, pertanyaan yang selalu gue bawa-bawa dari dari kota ke kota yang gue singgahi sebelum balik ke Bekasi. Pertanyaan tentang, kalau saja gue bukan gue yang sekarang apa segalanya akan sama? Di Pare, gue pulang dengan banyak cerita. Mulai dari kisah persahabatan hingga kisah kisah ngawur ala anak remaja hingga dewasa. Awalnya semua terasa menyenangkan, semua hanya berkisah tentang pertemanan, sampai pada suatu hari ada seseorang yang menyatakan perasaannya pada gue, lebih dari itu, dia meminta ijin untuk mengenal gue lebih jauh ke arah yang lebih serius. Ho'oh sampe ngomongin soal pernikahan dong. Gue kaget, bukan karena ada yang bilang ingin serius tapi gue lebih ke "Emang ada ya orang yang bisa yakin dengan orang lain secepet itu?" soalnya gue sendiri tipe yang gak bisa yakin dengan mudah gitu, makanya ...