Anyelir kuning
Kereta sore lewat dengan berderak lalu menghilang bersama bau besi dan angin yang sedikit berdebu. Setiap kali suara itu datang, Radit menoleh dari balik meja kayu di kedainya. Kedai kecil itu berdiri di sisi rel yang jarang sepi. Dindingnya separuh bata merah, separuh kaca besar yang selalu dipenuhi pantulan cahaya senja. Bau kopi panggang bercampur debu besi dari rel menimbulkan aroma yang aneh tapi akrab. Di langit-langit, bola lampu kuning temaram menggantung rendah, memantulkan cahaya lembut ke meja-meja kayu yang sudah banyak goresan di sisinya. Pintu berdenting pelan. Seorang perempuan masuk, langkahnya ragu seperti seseorang yang sedang mencari alasan untuk tetap datang. Ia memakai kemeja biru langit dengan padanan celana bahan hitam, rambutnya diikat longgar, dan kacamata bundar yang selalu melorot di hidungnya. "Halo, hari ini matcha atau americano?" Tanya Radit, sedikit bercanda, seolah ingin memecah udara yang terlalu tenang. Perempuan itu sontak kaget. Ada sembu...