Anyelir kuning
Kereta sore lewat dengan berderak lalu menghilang bersama bau besi dan angin yang sedikit berdebu. Setiap kali suara itu datang, Radit menoleh dari balik meja kayu di kedainya.
Kedai kecil itu berdiri di sisi rel yang jarang sepi. Dindingnya separuh bata merah, separuh kaca besar yang selalu dipenuhi pantulan cahaya senja. Bau kopi panggang bercampur debu besi dari rel menimbulkan aroma yang aneh tapi akrab. Di langit-langit, bola lampu kuning temaram menggantung rendah, memantulkan cahaya lembut ke meja-meja kayu yang sudah banyak goresan di sisinya.
Pintu berdenting pelan. Seorang perempuan masuk, langkahnya ragu seperti seseorang yang sedang mencari alasan untuk tetap datang. Ia memakai kemeja biru langit dengan padanan celana bahan hitam, rambutnya diikat longgar, dan kacamata bundar yang selalu melorot di hidungnya.
"Halo, hari ini matcha atau americano?" Tanya Radit, sedikit bercanda, seolah ingin memecah udara yang terlalu tenang.
Perempuan itu sontak kaget. Ada semburat merah di pipinya, campuran antara malu dan tersadar bahwa kebiasaannya ternyata diperhatikan.
"Eh.. eum.. " Kalimatnya menggantung. Ia menggigit bibir, lalu tersenyum kecil sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Latte, bisa?" ucapnya melanjutkan, kali ini Radit yang dibuat kaget.
"Tumben." Kata itu meluncur begitu saja, refleks. Ia buru-buru menambahkan, "Eh maaf, maksud saya, baik, saya siapkan." Radit segera berbalik menuju meja barista, berusaha menutupi senyum kecil di sudut bibirnya.
Suara mesin esspresso mulai berdengung, bercampur bunyi denting sendok dan desis uap susu. Di luar, kereta lain lewat, mengguncang sedikit kaca besar di depan kedai. Cahaya sore yang masuk melalui jendela membuat butiran debu tampak menari di udara.
Radit menatap pantulan wajahnya di cermin mesin kopi.
Entah sejak kapan, ia mulai menunggu kedatangan perempuan itu. Lima hari bukan waktu lama, tapi cukup untuk membuatnya menghafal: caranya menatap jendela, kebiasaan memutar sendok tanpa sadar, dan jeda panjang sebelum meneguk minuman pertamanya.
Ia meletakkan secangkir latte di nampan, lalu menghampiri meja nomor tiga.
"Latte panas, seperti biasanya.. eh, maksud saya, baru kali ini, ya?" katanya setengah bercanda.
Perempuan itu tertawa kecil. Suaranya lembut, seperti percikan air di kaca jendela.
"Aku hanya sadar bahwa aku terlalu banyak melakukan pengulangan." katanya.
Radit mengernyitkan dahi, "Kita seringkali mengulang sesuatu yang kita sukai, bukan?" Kali ini Radit menanggapi dengan sedikit serius.
Perempuan itu tersenyum gundah,
"Kadang yang kita sukai gak selalu berakhir kita butuhkan, kan?" Radit terdiam. Ia ingin bertanya lebih jauh tapi menahan diri.
Suara kereta kembali lewat, lebih cepat kali ini. Uap dari cangkir di meja itu membentuk garis tipis, lalu hilang seperti waktu yang terus bergerak.
Radit kembali ke meja barista, ia memilih memperhatikan perempuan itu dari kejauhan, berharap dapat memberikan ketenengan yang ia rasa dibutuhkan perempuan itu.
Komentar
Posting Komentar