Postingan

Hazel, aren't you? #2

Sejak hari di mana seseorang yang tidak ku kenal menyapaku lewat sebuah aplikasi chatting, aku tidak pernah mendapati hariku tenang tanpa rasa penasaran. Siapa sebenarnya dia? Mengapa pesan terakhirku tidak mendapat balasan darinya. Aku buka kembali kolom chat yang sudah tertimbun dengan puluhan chat lainnya, sejak sebulan lalu aku tidak pernah lagi mendapati balasan pesan darinya. "Ngapain aku simpan kontaknya, kalau dia hanya iseng lalu pergi!" ucapku dengan kesal. Aku merampas ransel yang berada di sampingku lalu berjalan menuju kedai kopi yang selalu ramai dikunjungi. Jangan bayangkan kedai ini seperti kedai kopi yang banyak dikenal oleh masyarakat metropolitan, kedai ini bisa dibilang kecil, tidak memiliki cabang lain selain tempat ini, tidak memiliki akses internet gratis dan juga jangan berharap jika kita bisa mengisi daya ponsel kita di kedai ini, karena kedai ini tidak memiliki colokan yang bisa digunakan untuk pelanggan. Membosankan, bukan? tetapi hal yang me...

Mengenyam jeda

Gambar
https://www.google.com/ ` 2020! This year hasn't been so good at all to me thus far. Ehmm bingung juga sih sebenernya, dunno exactly how I feel. Sometimes I'm grateful for what happened but feeling bad at the same time. Ya namanya juga manusia ya, Selama rehab dua bulan-nan lebih gak membuka blog ini, udah banyak banget yang terjadi. Jujur, beberapa hal sempat membuat mengeluh berkali-kali, karena dirasa belum sanggup menaklukkan perasaan kecewa. Kadang bingung sendiri sama maunya diri, kadang hati maunya begini tapi otak terus meneriakkan keinginan yang lain. Eh, bukan meneriakkan keinginan yang lain tetapi meneriakkan realita yang lain. ehehe  Saking kalutnya kadang-kadang bikin capek sendiri, apalagi kalo lagi ngerasa kok semua datang serasa bertubi-tubi dan gak dikasih jeda untuk istirahat, masalah seperti sedang tersenyum dan membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk secara bergantian, atau kadang secara bersamaan. Beberapa dari teman ...

Berkelana

Sudah kusisiri belahan kota ini, pergi mengelilingi tiap sudut tempat yang menjadi harapanku tiada kamu. Berharap segera bayangmu enyah. Aku ingat malam di mana kota ini terasa sangat begitu dingin. Menusuk rangka-ku, malam di mana kamu mengatakan bahwa kamu sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan bersamaku lagi. Cintamu telah usai, katamu. Malam itu, setelah apa yang kamu ucapkan padaku, kamu pamit dengan begitu tergesa-gesa, seolah-olah ada pintu lain yang akan kamu ketuk setelah ini. Kamu menghiraukan pintaku untuk menetap sebentar lagi.  Aku menerka apa yang sebenarnya terjadi. Tatanan rambutmu sama seperti saat kamu memintaku untuk menetap. Wangi tubuhmu seperti mengingatkan kembali saat-saat di mana kamu memintaku untuk menjadi wanitamu. Sekarang kamu mengulang lagi hal yang sama namun tidak dengan aku di dalamnya, kamu ingin menggantikan sosok wanita beberapa tahun yang lalu. Kamu memilih jalan yang tidak ada aku lagi di dalamnya. Siapa dia? tanyaku ganar. W...

Keliru

Tepat setelah aku mendeklarasikanmu sebagi satu dari prioritasku, di hari itu juga aku harus menelan cua. Begitu pahit, kenyataan bahwa kamu hanya menjadikanku sebuah kelakar, aku bagai arena rekreasi untukmu, tempatmu bermain-main. Aku keliru mengartikan perhatian-perhatian kecil yang kamu berikan, keliru mengartikan senyum-mu yang kupikir hanya untukku, aku keliru mengartikan genggaman-genggaman kecil saat kita bersama. Aku keliru saat kukira kita ada pada perasaan yang sama saat kamu selalu bersedia menghabiskan waktu untuk berbincang denganku, keliruku ketika aku mengira kamu membawa segenap hatimu saat sedang bersamaku. Kukira aku tidak jatuh cinta sendirian, kupikir ada kamu di dalamnya, bersamaku.  Seharusnya aku sadar sejak awal, bahwa ini bukan ketertarikanmu yang akan berujung pada sebuah afeksi padaku. Ini hanya rasa penasaranmu yang ingin kamu ketahui jawabannya. Ketika aku telah membuka ruang yang selama ini kututup rapat-rapat, dengan segala rasa yang mengge...

Kalau saja

Kadang gue suka mikir, kalau saja gue bukan gue yang sekarang apa segalanya bakalan sama seperti saat ini? Jadi, sepulang dari Pare gua dioleh-olehi pertanyaan, pertanyaan yang selalu gue bawa-bawa dari dari kota ke kota yang gue singgahi sebelum balik ke Bekasi. Pertanyaan tentang, kalau saja gue bukan gue yang sekarang apa segalanya akan sama? Di Pare, gue pulang dengan banyak cerita. Mulai dari kisah persahabatan hingga kisah kisah ngawur ala anak remaja hingga dewasa. Awalnya semua terasa menyenangkan, semua hanya berkisah tentang pertemanan, sampai pada suatu hari ada seseorang yang menyatakan perasaannya pada gue, lebih dari itu, dia meminta ijin untuk mengenal gue lebih jauh ke arah yang lebih serius. Ho'oh sampe ngomongin soal pernikahan dong. Gue kaget, bukan karena ada yang bilang ingin serius tapi gue lebih ke "Emang ada ya orang yang bisa yakin dengan orang lain secepet itu?" soalnya gue sendiri tipe yang gak bisa yakin dengan mudah gitu, makanya ...

"Gue penting, nggak, sih?"

Kadang kita merasa bahwa diri kita penting untuk orang lain, tapi seketika ada sebuah kejadian yang menyadari kita bahwa kita nggak sepenting itu. Contoh sederhana dan paling sering terjadi saat usia 20 tahunan adalah saat perayaan wedding dan graduation . Pernah gak sih di media sosial tau-tau lo liat temen lo nikah tanpa ada pemberitahuan atau undangan apapun yang sampai ke lo? pasti satu dua kali pernah ya, ya kalo gak pernah juga gapapa, mungkin emang lo masih SD sekarang. Ya wajar aja dan gak ada yang salah dengan itu, kita gak perlu repot-repot juga bertanya "Kenapa kok gue gak diundang?" atau "Kok bisa undangannya gak nyampe ke gue, ya?"  Ya emang harus diterima juga sih kalo kita gak sepenting itu di mata dia dan kita mulai harus berhenti untuk berekspetasi bahwa kita akan diperlakukan yang sama seperti kita memperlakukan orang itu, nanti kecewa. Begitu juga soal graduation . Tadi siang selepas latihan bareng anak-anak Soina gue diajak ...

Tidak lagi

Ke mana ya diri saya? Beberapa bulan ini, lebih tepatnya sejak tahun ini saya kehilangan semangat untuk bercerita di blog saya, bukan karena saya berhenti menulis sih, saya tetap menulis meski tidak seaktif tahun lalu. Saya juga merasa diri saya gak utuh, dulu setiap satu-tiga kali sebulan saya selalu menghabiskan waktu hanya bersama diri saya sendiri, menghabiskan waktu ke perpustakaan, menjelajahi bacaan bacaan yang membuat saya seperti diterapi dari segala masalah dan rasa lelah, jika saya ingin saya menghabiskan waktu seharian hanya untuk menulis, mengamati tingkah-tingkah orang lain. Pergi ke bioskop sendiri, menonton film yang saya pilih, setelah itu pergi makan, entah hanya di kaki lima ataupun di restoran dalam mall. Saya juga sering mengunjungi tempat-tempat wisata sendiri, pergi ke galeri seni, ke museum, ataupun tempat-tempat lainnya di Jakarta. Setelah itu saya merasa bahagia kembali, saya merasa hidup kembali. Tapi kenapa ya akhir-akhir ini saya tidak bisa? ...