Postingan

Expectation is not our friends

"Ya kan dari awal juga udah dibilangin, makanya jangan berekspektasi!" Kata seorang teman kepada teman lainnya. Udah sering banget gak sih kalian mendengar tentang hubungan antara ekspektasi dan rasa kecewa. Sebenernya ekspektasi itu apa sih maknanya? kan yang kita tahu selama ini ekspektasi adalah sebuah harapan. Nah kalau ekspektasi adalah sebuah harapan berarti kita disarankan untuk tidak berharap dong kalau gak mau kecewa? Eits, tunggu dulu. Kita harus cari tahu dulu asal kata dan arti kata ekspektasi ini sebelum kita mengetahui kenapa sih orang orang seringkali mengaitkan kata ekspektasi dengan perasaan kecewa. Ekspektasi sendiri diadaptasi dari bahasa Inggris yaitu Expectation  di mana kata dasarnya adalah expect   yang artinya adalah mengharapkan/menduga/menyangka. Sehingga ekspektasi adalah keyakinan kuat bahwa sesuatu akan terjadi atau menjadi masalah di masa mendatang (Menurut Prawiro, 2018). Sementara menurut Sutisna (2001) arti ekspektasi adalah suatu kepercay...

Burung biru, kembalilah menyenangkan.

Berasa gak sih akhir-akhir ini lebih sering mendengar berita-berita tidak menyenangkan dibanding berita yang menyenangkan? Berasa capek banget rasanya, ya? Gue kira 2021 lebih baik ternyata baru hampir tiga minggu aja udah berasa eng ing eng! Gue hari ini kayak nginget aja momen tiga atau dua tahun lalu, sedang membayangkan betapa banyak hal-hal menyenangkan hadir dari segala sisi, kenal orang baru, ikut acara ini itu, ngobrol sama orang baru, ngerasa semangat atas pertemuan-pertemuan baru. Betapa menyenangkannya gue dengan leluasa dua tahun lalu bertemu anak-anak murid, bertemu teman-teman, gebetan, jalan ke sana ke sini keliling Jakarta sendirian, makan di kaki lima Jakarta sambil ngobrol sama pedagangnya, atau sekadar ngabisin waktu mentionan sama orang lain di twitter sambil rebahan di rumah . Terlalu banyak hal-hal sederhana yang manis. Sekarang, setiap gua buka twitter, gue merasa twitter gak semenarik dua atau tiga tahun lalu, yang gue lihat dan baca kalau gak bencana, ya orang ...

Hadiah ulang tahun

Selamat ulang tahun, hadiah yang bisa kuberikan untuk peringatan umurmu tahun ini adalah kepergian. Kepergian yang mungkin sejak lama telah kamu inginkan. Maaf baru bisa memberikan hadiah ini di hari ulang tahunmu. Maaf baru bisa melepaskanmu sementara kamu inginnya sejak lama. Maaf kalau selama ini telah menahanmu padahal kamu inginnya pergi.  Bukan karena berhenti mencintai tapi menyadari bahwa perasaan ini hanya milikku saja dan tidak pernah lagi menjadi milikmu, sekeras apapun aku berusaha, selama apapun aku mencoba bila perasaanmu sudah tidak sama maka kepergian adalah cara yang paling tepat untuk mengakhirinya. Hadiah yang tidak perlu lagi dibungkus dan dihiasi kata-kata manis seperti hadiah yang disiapkan pada tahun-tahun sebelumnya. Semoga hadiah ini membuatmu tenang dan damai dalam menemukan cinta yang lain, yang kamu inginkan. Selamat ulang tahun.

Tujuan

Ada satu hal yang tertinggal dari perjalanan tahun ini meskipun kereta melaju dengan pesat. Pemberhentian selalu tanpa makna, tidak diberi ruang untuk saling menikmati kelana, sapa dan senyum menjadi hal asing di tengah dunia yang sedang bising. Semua ingin segera sampai. Tidak peduli ada apa dan siapa yang bersama dalam perjalanan. "Aku harus sampai." Saling sikut hal biasa jadi tidak perlu takut, katanya. Semua ingin dimengerti hingga lupa memaknai arti. Satu hal yang dilupakan dalam perjalanan tahun ini ialah tujuan. Semua melaju dengan cepat tanpa tau tujuan masing-masing, hanya mengekor pada perjalanan yang orang lain lakukan. Beranggapan bahwa apa yang orang lain sebut sebagai tujuan juga merupakan tujuan diri sendiri. Tanpa sebelumnya tahu ke mana jalannya. Tanpa sebelumnya tahu ke mana tujuannya. "Yang penting tidak sendiri ." Benar, sendiri memang menyakitkan namun berjalan beriringan tanpa tahu tujuan akan menghancurkan. Terkadang manusia memang perlu dile...

Dandelion

Aku percaya setiap hati tidak hanya diciptakan untuk sebuah nama. Kita bisa mencintai beberapa nama disaat bersamaan, tetapi memilih pada siapa kita membangun sebuah hubungan merupakan pertimbangan penuh keberanian. Mungkin itu jawaban dari mengapa kita pernah mencintai seseorang namun memutuskan untuk tidak membangun hubungan bersamanya.  Banyak alasannya, ya mungkin dia terlalu jauh untuk digapai, tembok yang ia miliki terlalu kokoh untuk diruntuhkan atau bisa saja karena jalan yang sudah jelas-jelas kamu dan dia lalui memang terlihat berbeda. Ya gapapa. Gak salah juga jika kita mencintai lebih dari satu nama. Tetapi menjadi salah jika kita memutuskan untuk memiliki keduanya. Mencintai dan membangun hubungan adalah dua hal yang berbeda. Jika seseorang berani mencintai tidak berarti ia berani membangun sebuah hubungan itu. Kan gak semua nama harus ada dalam cerita yang sama.  Nyantanya membangun sebuah hubungan tidak hanya membutuhkan perasaan, bukan? Jika kita berani memutus...

Tunggal

Dalam hidup ada saatnya kita berjalan sendirian, dan momen berjalan sendirian itu sudah gue (dan bahkan kita) lalui berkali-kali dalam hidup. Menjadi anak tunggal seringkali dicap sebagai anak manja yang selalu mengandalkan orang tua, anak yang selalu hidup dengan kalimat iya dari orang tua, mau minta ini-itu selalu diiyakan, kata mereka. Tapi interpretasi mereka nyatanya tidak selalu benar, dari kecil gue hidup dan dibesarkan bukan dengan pola asuh yes parenting, untuk menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi, mamah selalu bilang ke gue untuk mencari jalannya sendiri, iya dulu gue S-1 bener-bener kayak main lotre aja gitu, tapi ini modalnya cuma doa dan keinginan hahaha kalau lulus seleksi kampus dan beasiswa yaudah gue kuliah dan kalau nggak yaudah gue kerja dulu. Mamah selalu bilang untuk berjalan di kaki gue sendiri, untuk sadar bahwa dunia gak akan selalu ramah ke kita dan kalau bukan kita yang keras ke diri kita sendiri maka dunia dan seisinya yang akan ke keras ke kita. A...

Terakhir untukmu

Hai, rasanya ini sudah kesekian kalinya saya menulis tentangmu, saya berjanji ini yang terakhir. Apa kabar? Sebenarnya sudah tidak perlu dijawab, kamu tentu baik-baik saja, sudah bisa dilihat dari apa yang kamu tunjukan. Saya kira kamu sudah cukup dewasa untuk bisa menjelaskan situasi yang (pernah) terjadi di antara kita, saya pikir kamu sudah cukup mengerti tanpa harus diluruskan lagi bagaimana seharusnya perasaan kita berakhir, saya kira juga kita tidak perlu mengucapkan apapun karena kita bukan anak kecil lagi yang hanya bermain-main tanpa tujuan, saya pikir kamu datang -entah untuk kesekian kalinya- kali ini dengan maksud yang berbeda, tidak lagi untuk pergi. Saya pikir kita tidak sepenuhnya bercanda. Bukankah selama ini kita ada pada pikiran yang sama? Atau pikiran yang sama pun tidak selalu pada perasaan yang sama? dari awal situasi yang saya dan kamu maksud memang tidak pernah sama, bukan? Mungkin kamu hadir hanya untuk bermain-main. Tapi kesalahan saya adalah menyediakan te...