Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Anyelir kuning

Kereta sore lewat dengan berderak lalu menghilang bersama bau besi dan angin yang sedikit berdebu. Setiap kali suara itu datang, Radit menoleh dari balik meja kayu di kedainya.  Kedai kecil itu berdiri di sisi rel yang jarang sepi. Dindingnya separuh bata merah, separuh kaca besar yang selalu dipenuhi pantulan cahaya senja. Bau kopi panggang bercampur debu besi dari rel menimbulkan aroma yang aneh tapi akrab. Di langit-langit, bola lampu kuning temaram menggantung rendah, memantulkan cahaya lembut ke meja-meja kayu yang sudah banyak goresan di sisinya. Pintu berdenting pelan. Seorang perempuan masuk, langkahnya ragu seperti seseorang yang sedang mencari alasan untuk tetap datang. Ia memakai kemeja biru langit dengan padanan celana bahan hitam, rambutnya diikat longgar, dan kacamata bundar yang selalu melorot di hidungnya. "Halo, hari ini matcha atau americano?" Tanya Radit, sedikit bercanda, seolah ingin memecah udara yang terlalu tenang. Perempuan itu sontak kaget. Ada sembu...

Luka itu bernama 'Ibu'

Bunga di atas tanah pemakaman bapak masih segar tercium harum, namun sudah ku lihat ibu menggandeng laki-laki lain, ku tebak usianya hanya berjarak sekitar 10 tahun diatasku. Laki-laki yang entah aku tidak tahu datang dari mana. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemeja hitam polos dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan berwarna coklat susu yang tampak bersih, dan tak lupa sepatu casual  senada dengan warna celananya. Dibanding ke pemakaman tampilannya lebih seperti laki-laki mapan yang ingin berangkat kerja di gedung tinggi ibu kota. Aku pastikan, sebelum ia ke sini, ia sempat mampir ke pusat perbelanjaan, terlihat dari paper bag sebuah brand terkenal di tangan kirinya. Sialan. Dia pikir bapak akan kesal melihat gayanya? batinku. Aku menyibak separuh kerudungku ke belakang, melempar senyum mengejek pada sepasang kekasih yang sedang menjalani lakon kesedihan,  "Arya, mana?" tanyaku pada perempuan di hadapanku.  Ku lihat tidak ...

Tidak sampai besok

 "Belum dapat kabar, lagi?" tanya sosok laki-laki gagah yang kupanggil ayah, Mungkin ayah risau, sejak beberapa hari yang lalu aku senang sekali menatap layar gadgetku dengan gusar, tanganku membuka tutup aplikasi hijau, tempat kami biasa bertukar pesan, aku menanti pesan dari seseorang yang tidak kunjung datang. Sudah empat hari tepatnya. Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan sedikit kasar, "Belum, atau gak akan pernah ada kabar lagi, ya, yah?" kataku kecewa, ayah yang sejak tadi berada sedikit berjarak denganku, kini menggeser posisi duduknya lebih dekat denganku. Tangan lembut ayah membelai rambutku, tangan ayah tidak pernah berubah, masih tetap hangat. Ayah selalu mengatakan bahwa dari kecil aku adalah putri kesayangan ayah, kami begitu dekat sampai ayah mengetahui segala yang terjadi padaku. Termasuk kedekatanku dengan seseorang. Ayah tersenyum, tangannya tidak berhenti membelai rambutku, "Kalau bicara sebagai ayahmu, tentu ayah kecewa dengan sikap...